Pendahuluan
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi murid tingkat akhir di Jakarta—yang digelar mulai 3 November 2025—menampilkan fakta menarik: tidak semua siswa ikut. Dari 62.123 murid yang teregistrasi, sebanyak 59.830 orang atau sekitar 96,31 % mengikuti TKA. Artinya, sekitar 4 % atau lebih dari 2.200 murid memilih untuk tidak ikut. detikcom
Lantas, mengapa siswa memilih tidak ikut tes yang di masa lalu mungkin dianggap wajib? Artikel ini mengulas secara mendalam: apa yang menyebabkan absensi ini, bagaimana tanggapan dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta (Disdik), dampaknya, serta poin-penting yang bisa diperhatikan sekolah, orang tua dan siswa. Ditulis dengan gaya yang ramah pembaca dan optimasi agar layak tampil di Google Discovery.
Apa Itu TKA dan Konteks Pelaksanaannya
TKA adalah asesmen yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang bertujuan mengukur kemampuan akademik siswa menjelang kelulusan atau memasuki jenjang berikutnya. Namun penting dicatat bahwa Kemendikdasmen menegaskan bahwa TKA bukan kewajiban penuh untuk seluruh siswa—artinya tidak wajib 100 %. detikcom
Di Jakarta, pelaksanaan TKA di tingkat SMA/MA, SMK/MAK/SMALB serta Paket C/PKPPS Ulya dimulai hari Senin, 3 November 2025. Disdik Jakarta melakukan monitoring serta memastikan sosialisasi ke sekolah-sekolah berjalan. detikcom
Alasan Murid Tidak Ikut TKA
Kepala Bidang SMA Disdik DKI Jakarta, Ali Muqodas, menjelaskan ada tiga alasan utama murid tidak ikut TKA di Jakarta:
- Asal dari Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).
Siswa yang berasal dari SPK (Satuan Pendidikan Kerja Sama) atau sekolah yang berafiliasi kerja sama dengan lembaga asing atau sistem berbeda, sebagian memilih tidak ikut karena sistem sekolahnya berbeda atau mengikuti kurikulum luar negeri. detikcom - Galau atau kurang kesiapan psikologis.
Ada siswa yang merasa “belum siap” atau ragu untuk ikut sehingga memilih tidak mengikuti. Ali menyebut kata “galau” untuk menggambarkan kondisi ini. detikcom - Keterbatasan intelektual atau alasan pribadi lainnya.
Beberapa siswa disebut memiliki keterbatasan intelektual atau kondisi yang membuat mereka tidak akan mengikuti tes—yang secara teknis bisa jadi dipahami sebagai kondisi tertentu dalam penilaian akademik. detikcom
Ali juga menegaskan bahwa Disdik tidak memaksakan seluruh siswa untuk ikut — karena TKA bersifat opsional — namun pihak sekolah tetap diminta memfasilitasi bagi yang bersedia. detikcom
Implikasi dari Absensi Murid
Walaupun angka 4 % mungkin tampak kecil, namun perhatian terhadap fenomena ini penting karena beberapa alasan:
- Persiapan ke jenjang selanjutnya. Meski TKA bukan pengganti kelulusan, hasilnya bisa menjadi indikator kesiapan akademik siswa untuk masuk perguruan tinggi atau program selanjutnya. Tidak ikut berarti tak memperoleh data refleksi.
- Keadilan dan kesempatan. Jika sebagian siswa dari lingkungan SPK atau dengan kondisi tertentu tidak ikut, bisa muncul pertanyaan soal kesetaraan kesempatan—apakah semua siswa memiliki akses yang sama untuk ikut.
- Evaluasi sekolah & sistem pendidikan. Jumlah absensi bisa menjadi indikator bagi sekolah atau Disdik untuk mengevaluasi — misalnya apakah sosialisasi sudah memadai, apakah ada hambatan teknis atau psikologis yang perlu diperhatikan lebih serius.
- Persepsi dan kepercayaan siswa. Ketidaksiapan atau “galau” menandakan bahwa ada aspek psikologis dan motivasi yang perlu diperkuat di kalangan siswa — bukan semata soal akademik tetapi kesiapan mental.
Upaya Disdik & Sekolah untuk Menangani Hal Ini
Beberapa langkah penting yang disebut Disdik dan sekolah dalam menghadapi fenomena ini:
- Sosialisasi dan fasilitasi bagi siswa yang memilih ikut. Disdik mengimbau sekolah agar menyediakan tempat dan fasilitas bagi siswa yang bersedia. Ali menyebut: “Kalau sekolah saya, saya minta untuk mem-fasilitasi. Jika ada yang mau ikut ayo fasilitasi harus dikasih wadah duluan.” detikcom
- Penjelasan bahwa TKA bukan menentukan kelulusan. Untuk mengurangi kecemasan siswa, Disdik menerangkan bahwa “TKA ini ya tidak menentukan kelulusan… bisa jadi untuk intropeksi diri…”. detikcom
- Pendekatan terhadap siswa yang memilih tidak ikut. Meskipun tidak diwajibkan, pihak sekolah dan Disdik perlu memahami mengapa siswa memilih tidak ikut—apakah karena kurikulum berbeda, kesiapan, atau hambatan lain seperti teknologi/fasilitas.
- Pengembangan layanan dukungan siswa. Mengingat sebagian alasan adalah kesiapan psikologis, sekolah bisa menambah layanan konseling, pembekalan tentang arti TKA, dan latihan simulasi untuk siswa yang ragu.
Tantangan yang Masih Ada
Walaupun sudah ada upaya, tantangan-beberapa tetap perlu diperhatikan:
- Perbedaan sistem pendidikan (SPK vs reguler). Siswa sekolah SPK yang memilih tidak ikut menandakan bahwa sistem pendidikan yang berbeda bisa menimbulkan ketidaksinkronan antara kebijakan nasional dan sekolah-afiliasi.
- Kesiapan teknis dan fasilitas. Ada laporan siswa di SMAN 78 Jakarta menggunakan laptop pribadi karena komputer sekolah terbatas. X (formerly Twitter)+1 Hal ini menunjukkan bahwa akses fasilitas masih menjadi kendala.
- Motivasi siswa. Alasan “galau” atau tidak siap menunjukkan bahwa aspek non-akademik (motivasi, kesehatan mental) perlu diperkuat.
- Relevansi TKA bagi semua siswa. Karena TKA sifatnya tidak wajib dan bukan penentu kelulusan, pertanyaan muncul: bagaimana agar manfaat TKA dapat dirasakan oleh semua siswa, bukan hanya yang memilih ikut — sehingga tidak merasa “tertinggal”.
Kesimpulan
Fenomena sekitar 4 % murid di Jakarta yang memilih tidak ikut TKA adalah sinyal penting dalam sistem pendidikan kita: bahwa tidak semua siswa berada di jalur yang sama, dan ada hambatan baik sistemik (SPK vs reguler, fasilitas) maupun personal (kesiapan, motivasi) yang perlu diperhatikan.
Bagi sekolah, orang tua, dan siswa sendiri: penting memahami bahwa TKA bukan hanya soal “ujian nasional tambahan”, tetapi juga refleksi kesiapan akademik dan kesempatan untuk introspeksi. Bila siswa memilih tidak ikut, maka alternatif pembekalan atau pemahaman yang setara juga perlu disediakan agar mereka tidak merasa dirugikan.
Disdik dan sekolah perlu terus memperkuat fasilitas, memberikan edukasi, dan membangun motivasi agar ke depannya partisipasi dan manfaat TKA semakin maksimal. Dengan demikian, sistem pendidikan nasional dapat lebih inklusif — tidak hanya untuk yang “siap”, tetapi bagi semua siswa.

Leave a Reply